Bahaya Kelebihan Dosis Parasetamol (Kerusakan Hati, Asma, Stroke dll)


Seperti yang telah diketahui banyak orang bahwa umumnya parasetamol memiliki kegunaan untuk meredakan bahkan menghilangkan rasa sakit.

Parasetamol merupakan jenis obat analgesik yang populer digunakan untuk melegakan sesak napas, demam, atau sakit ringan (seperti sakit kepala ringan).

Parasetamol
Photo credit: Shutterstock.com/Emilie zhang

Dari sebuah sumber menyatakan bahwa sekitar seperempat orang dewasa menyalahgunakan penggunaan obat parasetamol dengan mengkonsumsi lebih melewati ambang batas (overdosis parasetamol)

Sehingga hal tersebut membuat para ilmuwan berusaha meneliti dampak dari overdosis parasetamol, dan kemudian memperingatkan risiko kelebihan dosis parasetamol tersebut.

Dosis maksimal dari mengkonsumsi parasetamol adalah 8 tablet 500 mg dalam sehari. Dan maksimal hanya diperbolehkan dua tablet saja untuk sekali minum dalam setiap empat jam.

Bahaya Kelebihan Dosis Parasetamol

Parasetamol memang sangat dibutuhkan dalan kondisi tertentu, tetapi bukan berarti parasetamol boleh digunakan dengan seenaknya, yang melebihi dosis karena sangat berbahaya untuk kesehatan, berikut pembahasannya di bawah ini.

Dapat Menyebabkan Kerusakan Hati

Selama bertahun-tahun konsumen merasa aman dalam menggunakan parasetamol sebagai obat pereda sakit.

Parasetamol berbeda dengan painkiller jenis ibuprofen atau asetosal (asam asetilsalisilat), dimana parasetamol tidak menyebabkan peradangan, karena itulah obat parasetamol sering dianggap aman.

Tetapi faktanya, studi yang dilakukan setelahnya, menemukan hasil bahwa parasetamol dalam dosis tinggi bisa menyebabkan kerusakan liver, bahkan kematian.

Berdasarkan penelitani dari Northwestern University di Chigago (Amerika Serikat), mereka mengungkapkan bahwa overdosis dari parasetamol ini dapat menyebabkan kerusakan hati akut.

Sehingga akibat dari overdosis parasetamol ini dapat menyebabkan gagal hati karena terjadi penumpukan cairan (racun) di otak.

Akibat yang ditimbulkan ini dari kelebihan dosis parasetamol tersebut sangat fatal, kita harus memperhatikan baik-baik jumlah parasetamol yang dikonsumsi.

Jangan sampai melewati ambang batas. Termasuk parasetamol tidak boleh dikonsumsi dalam jangka panjang karena juga dapat merusak hati.

Risiko dari kerusakan hati ini dapat lebih parah apabila pasien juga meminum alkohol.

Akibat yang paling parah yaitu mengkonsumsi parasetamol yang melewati ambang batas dan dalam jangka panjang dapat menyebabkan kematian.

Dalam penggunaan parasetamol, informasikan ke dokter jika mempunyai riwayat penyakit kronis seperti penyakit hati, ketergantungan alkohol dll. Paracetmol bila ditambah dengan mengkonsumsi alkohol, dapat mempercepat terjadinya kerusakan hati.


Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA) mengeluarkan peringatan akibat banyaknya obat penghilang rasa sakit (painkiller) yang dijual bebas, yang mengandung parasetamol, karena dapat membahayakan (jika dikonsumsi tidak benar) karena berpotensi merusak liver (Hasibuan, 2009).

Resiko Tinggi Asma, Sakit Tenggorokan, Eksim dll

Seperti yang ditulis di jurnal Lancet bahwa penggunaan parasetamol yang berlebihan dapat menimbulkan efek samping.

Pada dua penelitian yang dilakukan, menemukan hasil bahwa penggunaan parasetamol dalam intensitas tinggi dan sering, dapat meningkatkan resiko anak terkena asma dan eksim saat mereka berusia sekitar 7 tahun.

Pada penelitian yang pertama, para peneliti menemukan bahwa dari 205.000 anak yang menggunakan parasetamol sebelum umur 1 tahun, mengakibatkan meningkatkan risiko terkena asma pada usia 6 atau 7 tahun sebesar 46 persen, dibandingkan anak yang tidak mengonsumsinya (Sunanda, 2010).

Peneliti menjelaskan hubungan antara parasetamol dengan asma adalah antioksidan. Dimana keberadaan kandungan parasetamol di dalam tubuh mengakibatkan menurunnya kadar antioksidan di dalam tubuh.

Padahal, zat antioksidan diprlukan tubuh untuk melawan radikal bebas yang menyerang tubuh, serta mencegah kerusakannya.

“Parasetamol dapat mengurangi kadar antioksidan dan itu dapat menimbulkan stres pada paru-paru dan menyebabkan asma,” kata Richard Beasley di Medical Research Institute of New Zealand, seperti dikutip dari Reuters.

Selain itu, penggunaan parasetamol bisa meningkatkan resiko eksim, sakit tenggorokan, sering bersin, dan bunyi napas sengau, saat anak berusia 6 atau 7 tahun (Hasibuan, 2009).

Sehingga para peneliti mendukung pedoman yang diberikan oleh WHO, yang menyatakan bahwa parasetamol tidak boleh digunakan secara rutin. Serta parasetamol hanya digunakan untuk anak ketika memang mengalami demam yang tinggi (38,5 derajat Celcius keatas).

Gejala lainnya yang ditimbulkan dari bahaya kelebihan dosis paracetamol yaitu rasa mual hingga bisa mengakibatkan muntah, kulit dan mata berwarna kekuningan, warna air seni menjadi pekat (seperti warna teh), nyeri di perut bagian kanan atas, serta tubuh mudah merasa lelah dan lemas.

loading...

Serangan Jantung dan Stroke

Pada sebuah studi dengan perencaan yang besar, memperingatkan bahwa mengkonsumsi paracetamol hampir setiap hari bisa meningkatkan risiko serangan jantung, stroke, hingga esiko kematian dini.

Pasien yang mengkonsumsi obat penghilang rasa sakit dengan dosis tinggi dalam waktu yang lama, hampir 63 persen lebih beresiko meninggal secara tiba-tiba.

Demikian juga, risiko terkena serangan jantung dan stroke naik 68 persen lebih tinggi, serta resiko hampir 50 persen lebih tinggi terkena pendarahan lambung.

Para ilmuwan dari Leeds Institute of Rheumatic and Musculoskeletal Medicine, melakukan pengkajian dari delapan studi tentang pasien yang menggunakan parasetamol setiap hari sampai 14 tahun, dalam kondisi terkena arthritis dan nyeri punggung yang serius.

Philip Conaghan, yang memimpin penelitian ini, menjelaskan bahwa mereka yang menggunakan parasetamol dalam jangka panjang bisa mendapatkan penyakit, yang beresiko membunuh lebih dini.

“Saya sedikit khawatir dengan pasien arthritis dan nyeri punggung parah yang harus mengonsumsi parasetamol dosis tinggi, dalam jangka waktu yang lama. Mereka mungkin harus berbicara dengan dokter mereka tentang pengobatan alternatif, seperti olahraga,” kata Philip Conaghan.

Berdasarkan informasi yang dipuublikasian di dalam jurnal Annals of the Rheumatic Diseases, bahwa studi belum dapat untuk mengetahui rata-rata peningkatan risiko serangan jantung dan stroke akibat penggunaan parasetamol dalam jangka waktu yang panjang

loading...

Parasetamol Aman Digunakan, dengan Syarat...

Menurut rekomendasi FDA, dosis aman parasetamol tidak lebih dari 4000 mg dalam jangka 24 jam bagi orang dewasa dan anak berusia di atas 12 tahun.

Jika tidak ada masalah di organ hati, dosis maksimum parasetamol untuk orang dewasa adalah 4 gram (4000mg) per hari atau 8 tablet parasetamol 500mg.

Sebenarnya Parasetamol cukup aman digunakan, apabila sesuai dengan petunjuk dan batas maksimal konsumsi (dari rekomendasi dokter).

Walaupun ada beberapa efek samping yang dapat terjadi kepada pengguna parasetamol, seperti adanya rasa demam yang disertai dengan menggigil, sakit pada tenggorokan (padahal sebelum mengkonsumsi parasetamol baik-baik saja), bintik-bintik putih di mulut atau bibir, serta gatal pada kulit.

Efek-efek tersebut umumnya jarang terjadi kepada para pengguna Parasetamol. Jika Anda mengalam efek-efek tersebut, maka disarankan untuk segera periksa ke dokter.

loading...

[UPDATE]
Pikir Dua Kali Sebelum Memberi Anak Obat Parasetamol

Saat masa-masa udara dingin seperti musim hujan, tubuh akan rentan terserang penyakit, seperti salah satunya penyakit flu yang sering menyerang tubuh, khususnya pada anak-anak.

Orangtua dalam mengobati flu atau demam pada anak, seringkali mengandalkan obat penurun panas seperti parasetamol.

Namun, para ilmuwan mengatakan bahwa “hati-hati” dalam memberikan obat parasetamol pada anak.

Sebuah penelitian yang diterbitkan di jurnal Toxicological Science, menyimpulkan bahwa penggunaan obat parasetamol dapat mengganggu pertumbuhan atau perkembangan otak anak.

Para ilmuwan di Universitas Uppsala, Swedia, melakukan penelitian lab dan menemukan fakta ini. Penelitian menunujukan bahwa penggunaan parasetamol akan cenderung membuat anak lebih hiperaktif dan bisa berpotensi mengalami gangguan perilaku.

Selain itu, penggunaan parasetamol berisiko mengurangi kemampuan daya ingat. Para peneliti menyebutkan bahwa penggunaan parasetamol (dengan frekuensi tinggi pada anak-anak) bisa mengakibatkan efek jangka panjang berupa gangguan fungsi kognitif.

Sehingga peneliti menasehatkan kepada orangtua agar berhati-hati dalam memberikan obat parasetamol pada anak.

Para ilmuwan menjelaskan bahwa pemberian antidemam seperti parasetamol hendaknya dilakukan jika suhu demam telah mencapai 38 derajat celsius.

Beberapa efek samping yang umum terjadi dari penggunaan obat antipiretik atau antidemam yaitu rasa mual, muntah, kesulitan bernapas, sakit perut dan sakit kepala.

Para dokter menjelaskan bahwa penggunaan antipiretik seperti parasetamol harus dibatasi, tujuannya hanya untuk membantu agar demam tidak terlalu tinggi ataupun mengurangi gejala demam yang muncul.

Seringkali penggunaan antipiretik dilakukan walaupun kondisi demam masih tahap ringan, bahkan ada yang menggunakan parasetamol sekadar untuk mencegah demam agar tidak berulang terjadi.

Faktanya belum terdapat bukti ilmiah bahwa antipiretik dapat mencegah munculnya demam kembali.

Loading...

Risiko Minum Paracetamol Saat Hamil

Banyak ahli kesehatan yang mengatakan bahwa Ibu hamil harus hati-hati dalam mengkonsumsi obat. Dimana penggunaan obat yang tidak tepat dan tanpa mengetahui efek sampingnya beresiko menimbulkan masalah pada Ibu hamil dan janin di dalam kandungannya.

Sebuah penelitian menemukan bahwa konsumsi paracetamol oleh wanita hamil dapat meningkatkan resiko terkena ADHD (masalah tingkah laku, seperti hiperaktif) pada anak yang dilahirkannya.

Peneliti menjelaskan bahwa zat dalam parasetamol bisa meningkatkan risiko anak terkena gangguan hiperaktif hingga tiga kali lipat.

Penggunaan paracetamol dikhawatirkan berisiko bagi ibu hamil dan janin karena bisa mengganggu keseimbangan hormon pada rahim, salah satu dampaknya yaitu gangguan pada perkembangan otak janin.

Pada tahap riset awal, NHS mengatakan agar wanita hamil berhati-hati dalam penggunaan parasetamol, penggunaan hendaknya dalam dosis rendah dan juga dalam jangka waktu yang pendek.

Dalam riset, peneliti mengumpulkan data dari sekitar 64 ribu anak dan ibu di Demark pada 1996 hingga 2002. Orangtua juga diminta mengisi kuisioner yang disediakan.

Lalu diketahui bahwa sekitar setengah ibu dilaporkan menggunakan parasetamol saat hamil. Hal ini berkaitan dengan peningkatan risiko gangguan hiperkinetik (bagian dari ADHD) sebesar 37 persen.

Anak yang dilahirkan dari Ibu yang menggunakan pain killer saat masa hamilnya, berisiko sebesar 13 persen menderita ADHD saat berusia 7 tahun.

Risiko ini bisa semakin besar apabila Ibu hamil mengkonsumsi paracetamol selama 6 bulan atau lebih, terlebih lagi dalam dosis yang tinggi.

Menurut peneliti dari University of California, Los Angeles, Zeyan Liew, acetaminophen dapat mempengaruhi perkembangan hormon, yang berdampak pada gangguan perkembangan saraf dan masalah tingkah laku.

Peneliti dari bidang psikologi dan perkembangan di Cardiff University, Kate Langley, mengatakan bahwa temuan ini amat menarik, tapi masih perlu riset lebih lanjut untuk mendalami keterkaitan antara konsumsi paracetamol saat hamil dan ADHD pada anak.

Referensi:
Daily Mail Online (2015). Paracetamol linked to heart attack risk: Fears over high doses taken for a long time.
Febrida, Melly. Liputan 6 (2014). Pikir Dua Kali Sebelum Beri Anak Obat Parasetamol.
Widiyani, Rosmha. Kompas (2014). Risiko Minum Paracetamol Saat Hamil.



loading...

Tulisan Terkait:

Loading...

Tips Aktifitas Sehari-hari